New Life
Alhamdulillah bisa nulis lagi, mumpung nggak ada kerjaan di kantor, kerjaan udah pada dihandle ma adek kelas karena aku kelamaan cuti, jadi lapang deh, (bilang aja malas kerja..:P)
Bulan Ramadhan udah memasuki hari ke 4.. nggak kerasa ya perasaan baru minggu kemarin aku pulang kampung lebaran di Banjar..
Oh ya yang udah kasih komen dan yang udah sering bolak-balik liat blog aku tapi ternyata berujung kecewa karena blognya jarang di update..dan komennya baru di approve sekarang…
Aku mohon maaaaaffff banget.. bukan niatku nganggurin blogku yang udah terlanjur dipromosiin sana sini, tapi karena ada beberapa hal dan kejadian yang ujung-ujungnya telah mengubah hidupku, berbeda
Yup.. I’ve get married…
Tanggal 10 Agustus 2008 merupakan momen terpenting bagi seseorang wanita yaitu aku, karena tanggal itu merupakan perubahan terpenting dalam hidupku, dan akan menjadi ladang pelajaran yang akan kujalani seumur hidup….belajar menjadi seorang isteri.
Jujur pertama kali menghabiskan waktu dan terbuka dengan seseorang lelaki yang sebelumnya asing bagiku merupakan adaptasi yang sangat berat. Aku adalah wanita yang individualistisnya sangat tinggi, bebas menentukan waktu sendiri, dan independen terhadap keputusanku sendiri mungkin karena sebelumnya aku udah hidup mandiri selama 4 tahun, jauh dari lingkungan yang bernama keluarga, jadi menjadi seorang anggota keluarga, apalagi keluarga yang belum kukenal sebelumnya, harus banyak membuka mata hati dan pikiran, oh begini seharusnya… oh begitu ternyata…. oh ini kebiasaan mereka…. oh ini yang nggak pantas..ga se ena’e dewe
Cara berkomunikasi, cara makan, waktu berkumpul yang drastis berbeda seperti yang aku alami selama 18 tahun aku hidup di keluargaku sebelum aku ngekos,
Paling simple aja, cara makanku yang nggak biasa pake sendok, (capek megangnya..)
Alias pake kayuhan tangan, terus suami yang justru kalo bisa pake sendok ya pake, dan makan bersama yang jadi agenda wajib di keluargaku ternyata tidak halnya di keluarga suami, kebetulan kami masih numpang di tempat mertua, makanya akulah yang praktis harus terbiasa dengan kebiasaan mereka.
Apalagi ibu mertua belum mengijinkan untuk berpisah dari rumah sebelum lebaran tiba, mungkin karena beliau ragu aku bisa masak buat sahur heheh..(and she’s right) yah, paling tidak dari beliaulah aku melihat dan belajar gimana cara yang benar ngurus lelaki.. hehehe enak sih soalnya nggak ngeluarin biaya buat ngontrak tapi..
Yang bikin nggak enak hati, terutama bagi aku yang terkategori ‘numpang’, aku nggak bisa bantu beliau secara maksimal, paling banter abis tarawih aku nyuciin piring, yang masak, yah ibu lah, lha aku ma suami pulang senja, dah mau azan.
Seabrek teori2 tentang pernikahan yang kupelajari sebelum nikah jadi hanya sebatas barisan kata-kata di kepalaku, nyatanya prakteknya sangat kondisional,
Aku belum bisa menjadi seorang isteri sepenuhnya, sampai mungkin kami pisah dari keluarga dan membentuk keluarga dan rumah sendiri. Insya Allah nanti.