Ngebahas film Denias..emm..dibilang telat..yaa juga sih.. film yang sebenarnya udah mulai ditayangin sekitar tahun 2006 barusan kutonton seminggu yang lalu di salah satu tv swasta, kebetulan itu hari libur, walaupun saya nontonnya cuman setengah udah mau akhir, soalnya temen saya baru bilangin via telepon ada film bagus, (dan menurutku lebih berbobot dari film lokal yang betebaran sekarang)
Saya paling suka adegan waktu Denias nulis catatan (yang mengandung arti filosofis) seperti ini “Nama saya Denias, Mama saya suruh saya sekolah, karena dia bilang gunung takut pada anak sekolah”
polos, benar-benar pola yang sederhana untuk mengungkapkan bahwa anak Indonesia perlu pendidikan, karena dengan ilmu kita bisa menaklukan gunung, melintasi lautan, dan terbang ke awan…
padahal dari segi latar nih film terbilang standar, latar pegunungan khas Papua, nggak ada kemewahan yang ditawarkan, tapi wajarlah namanya aja suku pedalaman, tapi ternyata malah bisa jadi nominasi oscar, trus JIFFEST, FFI, Film Etnik Terpuji
yang bikin saya terkesan, Denias sebenarnya adalah kisah nyata seorang anak suku dalam Papua bernama Janias dan keinginannya yang kuat untuk bisa sekolah, (sekarang beliau sudah melanjutkan S2 di Australia) saya benar-benar terharu melihat kenekatan Denias kekota dan akhirnya (sebenarnya nih film mudah ditebak akhirnya)..dia bisa sekolah dengan perjuangan seorang guru.
Film Denias ini adalah film selain Gie yang yang berhasil membuat saya bangga dengan film Indonesia, film-film yang lainnya udah gagal total membuat saya berfikir tentang high quality..
saya nggak bermaksud ngebahas film dan segala efek2 dramatis dan segudang kritikan tentang pencahayaan dan tokoh2, karena saya emang nggak terlalu maniak film, kalaupun suka, paling film dokumenter, sama film sejarah. karena saya ngerasa bisa kembali ke masa lalu,
cuma disini saya mikir, betapa parahnya Negeri kita soal pendidikan, karena ternyata ada saja di sudut-sudut negeri seribu pulau ini yang belum tersentuh dengan ilmu…
sebenarnya film Denias bisa jadi ‘cubitan’ kecil untuk pemerintah, lihatlah, untuk bersekolah saja, seorang anak harus berjuang keras, sampai orangtuanya sendiri mengatakan bahwa sekolah itu hanya untuk orang kaya..
sebenarnya kalo kita lihat realita yang ada, masih banyak Denias-Denias di sudut lain yang berteriak-teriak ingin merasakan bangku sekolah,.. yah..itu salah satu PeEr Negara kita, belum lagi masalah kesejahteraan guru yang belum terjamin, termasuk guru yang ngobjek pas jam sekolah, dan ribuan guru honorer yang nggak jelas nasibnya..
terus waktu aku lihat di metro tv waktu menteri pendidikan ditanya tentang nasib guru honorer, apa jawab beliau “ wah..pembahasan itu bukan disini tempatnya”
hemm… aku aja nggak puas dengernya… yah paling tidak ditanggepin deh pertanyaan yang sebenarnya jadi masalah klasik itu, walau bagaimanapun guru honorer itu sudah menyumbang jasa yang banyak, kalo nggak dibantu ama mereka, dijamin Indonesia kekurangan guru, sekarang pun masih ada aja sekolah yang gurunya tipe ‘satu untuk semua’ (maksudnya borong mapel) terus guru honorer yang udah mengabdi selama 20 tahun namun nggak diangkat-angkat jadi PNS, gaji yang dbawah UMR, ( lama-lama Guru beralih profesi jadi buruh??)
baru-baru ini gencarnya kasus pembocoran jawaban UAN dan guru-guru yang diam-diam ngebetulin jawaban anak murid, entah karena ingin menjaga nama baik sekolah atau karena standar yang terlalu tinggi bagi anak didik,
tapi menurut saya standar pendidikan kita ni dah rendah.. apa mau direndahin lagi??, eh..alih-alih meningkatkan kualitas pendidikan, malah ada wacana untuk menghemat anggaran pendidikan sebesar 20% sebagai realisasi penghematan anggaran negara.. apa nanti negeri kita jadi negeri yang bodoh??
hemm.. saya hanya bisa mendengus sepanjang film, kepikiran bahwa negeri kita punya segudang peer di bidang pendidikan yang harus dibenahin secara total, so.. ni lagi jaman-jamannya pilkada,, mudah-mudahan bangsa Indonesia bisa memilih pemimpin yang amanah dan bisa mengemban tugas yang sangat berat ini.. Insya Allah..